“Aaaaaa…!!!” Adrenalin Rush di Ulee Lheue kala Sunset

Wisata Bahari Ulee Lheue-15

Suasana Sunset di Ulee Lheue

Waktu menunjukkan pukul tiga sore, ketika hape ku berbunyi “Ting…!” tanda sms masuk. Ternyata salah seorang temanku Tommy, mengajak untuk menikmati sore dari atas perahu lagi.

Aku langsung mengiyakan. Soalnya, Sunset di perairan Ulee Lheue yang juga akrab disebut dengan olele atau ulele itu, adalah yang terindah di provinsi paling ujung sumatra itu.

Sebelumnya kami sudah pernah beberapa kali ikut tour wisata air ulele tersebut, bahkan kami adalah tamu pertama yang merasakan pengalaman itu pada saat pertama launching.

Cukup dengan uang Rp 10.000 per orang, kita sudah bisa meyewa sebuah kapal kecil untuk berlayar di sekitar dermaga ulele, hingga menuju laut lepas, sangat murah bukan? Perjalan tersebut memakan waktu lebih kurang 30 menit, kalau beruntung bahkan bisa sampai satu jam.

Untuk memesan perahu, kalian tinggal menghubungi nomor hape pengelola yang tertera di Café Ulee Lheue Bay, disudut jembatan yang dulunya di kenal dengan Ulee Lheue Corner.

Buat janji, dan datang kedermaga sesuai waktu yang anda inginkan, bisa pagi, siang maupun sore. Kami memilih sore hari, sekalian melhat sunset.

Idealnya, satu perahu dapat mengangkut enam orang. Namun saat itu kami yang delapan orang memutuskan untuk naik satu perahu dalam satu trip, karena waktu sudah hampir magrib. Akibatnya, sang kapten hanya bisa menjalankan perahu dengan kecepatan rendah.

Keselamatan peserta tour sangat dijaga oleh pengelola, setiap orang wajib mengenakan life jacket, soalnya, perairan disana kadang sulit diprediksi.

Wisata Bahari Ulee Lheue-2

Peserta tour dari teman-teman english club

Kali itu, kami memang berencana untuk menangkap sunset. Jadi rata-rata peserta trip membawa kamera. Hati-hati saat mengambil gambar dari atas perahu, karena gelombangnya lumayan besar.

Kadang kala dapat membasahi baju, percikan air laut pun tidak dapat memilih untuk tidak membasahi kamera kesayangan kita Open-mouthed smile

View pertama yang paling menarik tentu saja matahari terbenam dengan latar depan Mesjid Baiturrahim Ulele dan jembatannya. Ditemani, latar belakang Gunung Goh Leumo yang mirip ikan paus terdampar.

Wisata Bahari Ulee Lheue-3

Sunset dengan latar mesjid ulele

Wisata Bahari Ulee Lheue-7

Gunung Goh Leumo

Pak Thaleb (46) adalah seorang nelayan di kawasan ulele. Oleh pengelola, dia ditabalkan sebagai kapten dalam setiap tour wisata air itu, Pak Thaleb mengaku mendapatkan pendapatan tambahan, apalagi ketika cuaca tidak bersahabat, dia tidak bisa melaut.

Perairan ulele memang tampak tenang. Awal perjalan terasa biasa-biasa saja. Hanya ada beberapa boat kayu dan aktivitas masyarakat pesisir yang menarik perhatian. Pemandangan yang ditawarkan sangat menenangkan. Bisa jadi obat hati yang luka~

Permainan warna dilangit, matahari, awan, dan refleksi di air laut. Alhamdulillah…

Namun segalanya berubah ketika sang kapten menggeber mesin yamaha enduro hingga batas maksimal.

Wisata Bahari Ulee Lheue-4

Thaleb (46)

Wisata Bahari Ulee Lheue-12

Thaleb (46)

Wisata Bahari Ulee Lheue-5

Kapten dan Mesinnya

Wisata Bahari Ulee Lheue-6

Sehari-hari bekerja sebagai nelayan di perairan Ulele

Segalanya tampak mudah bagi dia. Tidak bagi beberapa dari kami yang mayoritas wanita. Ketika melewati jembatan ulele menuju laut lepas, perahu terasa limbung diterpa ombak yang kelihatannya tenang tapi sukses menggoyang kapal kecil kami.

“Naik kapal kecil, takut goyang-goyang”

Lagu masa kecil tersebut, betul-betul kami rasakan. Pertama boleh saja kami berteriak kegirangan, karena selama perjalanan di dermaga, agak membosankan.

Adrenalin baru terpacu saat kapal meninggalkan jembatan. Beberapa tampak diam. Tangan-tangan kami saling berpegangan dan makin merapat satu sama lain.

“OK, this is to much”

Tapi Kapten Thaleb malah menyunggingkan senyum. Beberapa ratus meter ke laut jauh, dia dengan tenang mematikan mesin kapal.

“Yang mau foto, foto terus. Mataharinya mau tenggelam”

Setelah puas, dia memberi kode agar kami memasukkan kamera. Ternyata dia sudah punya rencana lain.

Menunggu ombak, perahu dibawanya menaiki ombak.

“Aaaaaaaaa…….!!!!” kami menjerit menikmati sensasi yang diberikan. Kali ini tak ada terpaan ombak, kami berjalan diatasnya seperti orang yang lagi selancar.

Rasanya bebas! sekaligus pasrah… pasrah kalau-kalau kapal oleng. Dia sudah memperingatkannya. Tapi….

Tapi seru!

Bagi kami yang tak biasa di laut, tentu saja, pengalaman tadi sangat memompa adrenalin. Tidak terasa, baju kami basah semua. Rona puas menghiasi wajah peserta tour. “Nanti lagi yaaaa…..!” kata seorang peserta saat kapal kami mendarat di dermaga.

Wisata Bahari Ulee Lheue-11

Sunset dan Sauh

Wisata Bahari Ulee Lheue-13

Santai di moncong kapal

Tidak terasa magrib sudah menjelang. Kami bergegas menuju mesjid ulele yang bersejarah tersebut.

Tidak harus jauh-jauh untuk menikmati Kota Banda Aceh. Tidak harus mahal juga. Kalau kalian bosan selalu ngopi disore hari, Trip wisata air ini bisa jadi pilihan.  Apalagi rutenya bisa dipesan sesuai pilihan kok!

Bagi saya, sangat beruntung menjadi tinggal di Banda Aceh. Karena kemewahan sunset yang ditawarkan, hampir setiap hari. Ya, setiap hari sunsetnya sangat mewah. Persis seperti yang kita lihat dimajalah-majalah wisata. Tapi ini free, setiap hari.

Tinggal bagaimana kita menikmatinya. Kali ini kami mencoba menikmatinya dari perairan Ulee Lheue favorit kami, kalau anda?

Iklan

[Foto] Berpetualang di Sisi Lain Pantai Lampuuk (Part. 3)

Bermain-main di Hutan Cemara

Setelah puas berkeliling dengan speedboat, kami bergerak menuju tepian pantai. Disana saya mengambil beberapa gambar. Dan mengajak tary dan richa menuju ke arah paint ball. sebelum tiba disana, kami berhenti ditempat outbond ditengah hutan cemara yang berjajar rapi.

Hari sudah siang, namun matahari masih tertutup awan. Tanah dan rerumputan masih sedikit basah. Bau tanah menyergap hidung, berpadu dengan segarnya atmosfir hutan cemara. Cahayanya temaram, matahari masih belum menembus rimbunnya daun hutan monokultur tersebut.

Saya suka suasananya, saya suka cahayanya, dan saya memang suka hutan cemara!

Pakaian berwarna cerah yang dikenakan Tary dan Richa sangat cocok dengan latar belakang hutan tersebut. Berikut Foto-fotonya…

Ade Tary (2)

Ade Tary Risky, Tampak segar dengan balutan pakaian cerahnya.

  Baca lebih lanjut

[Foto] Berpetualang di Sisi Lain Pantai Lampuuk (Part. 2)

 Serunya Berpose di Atas Speed Boat

Meskipun kami cuma jalan-jalan aja, tapi biar keren kita sebut petualangan aja ya?

Dalam petualangan kali ini, saya ditemani oleh dua orang gadis cantik dan lucu. Risna Richa dan Ade Tary Risky. Richa yang memakai jilbab pink cerah, merupakan mahasiswi angkatan 2008 yang sedang coass sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Banda Aceh. sedangkan Tary yang memakai baju kuning, adalah mahasiswi FKIP Ekonomi angkatan 2010 yang sedang sibuk mengajar praktek di sekolahan.

Sebenarnya gak ada niat foto-foto sih, tapi ya namanya aja wanita, mana tahan kalau lihat kamera, apalagi kamera saya, yang juga gak tahan minta dipencet kalau menangkap wanita cantik melintas di viewfindernya. Saya mengambil gambar mereka di beberapa lokasi tapi yang paling saya suka adalah yang diatas boat dan di hutan cemara lampuuk. Berikut aksi Richa dan Tari di atas speed boat:

richa

Richa mengenakan baju hijau toska dan jilbab pink cerah, kontras dengan suasana pantai yang sendu.

Baca lebih lanjut

Berpetualang di Sisi Lain Pantai Lampuuk (Part. 1)

Hari itu,12/29/2013, sebenarnya tidak terlalu cerah untuk pergi ke laut. Tapi hati ini sangat berhasrat untuk pergi kesana. Aku pun mengganti PM di BBM dengan pesan, “Lampuuk, Anyone?”

2013DSC_7739

Selfie di tengah laut, biar dibilang gaul

Gayung bersambut, ternyata di ujung sana, Richa dan Tary sedang ngidam untuk pergi ke lampuuk juga. Pukul delapan lewat kami jalan. Kali itu mereka telat, saya sudah jalan hingga lhoknga, hingga mendapat sms, “bang, kami udah di lampuuk yaaa”

Dengan suka cita saya menuju Pantai Indah Lampuuk, dan singgah di tempat dimana kami biasa mondok, banana boat café. Kami sudah sering ke lampuuk sama-sama, biasanya cuma jalan-jalan sambil foto-foto, sambil menikmati indomie rebus plus air kelapa muda. Tapi kali ini harus berbeda, ucap saya dalam hati. Baca lebih lanjut

Suatu Sore di Tepi Sungai Lamnyong

Sampul Depan Dalam - Copy

Tempat ini merupakan tempat favorit saya menghabiskan pagi dan sore. Karena kita dapat menikmati sunrise dan sunset dari satu titik. Sore itu, saya sedang bersantai di bantaran kali. Lalu mata saya melihat momen menarik, dimana ada satu keluarga yang menuju sungai. Ayahnya memasang jaring di sungai. Ibu dan anaknya menunggu dengan sabar di tepi sungai. Sungguh suatu momen yang sangat menarik untuk di abadikan.

Berkenalan dengan Siamang di Puncak Geurutee

…ini adalah tulisan sambungan, cek postingan sebelumnya juga ya

2013DSC_7357

Keadaan masih sepi, mungkin juga karena hujan masih turun dengan itensitas sedang dan rendah. Sesekali angin mengusir rintik hujan itu kebawah pondok sehingga kami harus sering-sering mengelap lensa. Di pondok itu, bangku-bangku belum disusun, hanya ada bangku kayu yang dapat diduduki untuk melihat pemandangan keluar. Dari pondok sebelah, seorang pria muda memanggi kami, “kemari aja pak, bisa jalan lewat situ” katanya sambil membuka pintu pondok yang bersambung antara pondok satu dengan yang lain. Baca lebih lanjut

Menikmati Pemandangan Geurutee Bersama Tim Web FEkon

2013DSC_7662

Rintik hujan terdengar samar, udara dikamarku sangat sejuk. Terlalu sejuk untuk orang tropis seperti aku. Kuturunkan lagi selimut untuk menutupi kakiku. Brrr…! Sesaat lagi tanganku sudah bergerak lincah mencari hape diantara tumpukan kabel-kabel charger, laptop, speaker dan sebagainya. Kamar itu sudah hancur lebur tak terurus.

Dengan mata yang masih enggan untuk membuka, aku melihat jam di hape telah menunjukkan pukul 7 pagi. Malamnya aku telah diingatkan oleh Tim Web kampusku bahwa hari ini (28/12/2013) kami berencana jalan-jalan ke Puncak Geurutee Aceh Jaya.  Baca lebih lanjut